Social Icons

Pages

Rabu, 16 Oktober 2013

Teknik Menghasilkan Benih Rajungan di Hatchery


1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Dengan garis pantai yang panjang ini, Indonesia memiliki potensi kepiting yang sangat besar. dari 234 jenis kepiting yang hidup di perairan Indo-Pasifik Barat, 124 jenis di antaranya dapat dijumpai di perairan Indonesia. Namun dari antara semua jenis kepiting ini, hanya beberapa jenis saja yang telah dikenal karena kelezatannya sebagai makanan.
Rajungan merupakan komoditas perikanan yang saat ini banyak diminati, memiliki nilai ekonomis tinggi dan mulai dikembangkan pembudidayaannya. Selain karena rasanya yang lezat, juga karena nilai jual yang terkenal cukup mahal. Nilai gizi dari rajungan juga cukup tinggi, dengan protein sekitar 65 persen, mineral 7,5 persen dan lemak tak sampai 1 persen. Rajungan telah diekspor ke berbagai negara dalam bentuk rajungan segar maupun olahan, di mana rajungan segar banyak diminta oleh negara Singapura dan dalam bentuk beku ke negara Jepang dan Amerika. Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam.
permintaan negara Amerika Serikat lewat PT. Philips Seafood Indonesia yang mencapai 60 ribu ton per tahun. Untuk negara-negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong dan Jepang, PT Tonga Tiur memasok ribuan ton per tahunnya. Sementara itu untuk kebutuhan lokal, dalam jumlah yang sama dipasok oleh PT Windika Utama. Sayangnya, permintaan itu baru bisa dipenuhi sekitar 30 ribu ton rajungan atau 7.500 ton daging rajungan per tahun. Secara keseluruhan di Indonesia ada sekitar 10 perusahaan pengolah rajungan dengan total kapasitas produksi sebesar 95,25 ton/hari. Realisasinya baru sekitar 57,75 ton/hari atau sekitar 60,63 persen. Itu pun 70 persen berasal dari rajungan yang ditangkap di alam dan hanya sekitar 30 persen yang dihasilkan dari kegiatan budi daya. Sehingga peluang bisnis rajungan ini masih terbuka lebar.
Selain rajungan ukuran konsumsi sebagai komoditas ekspor unggulan, dewasa ini rajungan ukuran kecil (berat ± 1,8 gram/ekor) telah menjadi jenis makanan baru yang banyak di minati oleh orang Jepang sebagai camilan ketika minum sake. Hal ini menjadi peluang baru dalam usaha budidaya rajungan. Namun peluang ini belum diikuti dengan teknologi untuk memproduksi benih rajungan tersebut dalam skala massal.
Salah satu kendala dalam pengembangan teknologi pembenihan rajungan adalah rendahnya persentase sintasan benih atau tingkat kelangsungan hidup yang dihasilkan dan belum ada teknologi perbenihan rajungan yang mudah diaplikasikan.
2.1. Biologi Rajungan
2.1.1. Klasifikasi Rajungan
dilihat dari sistematikanya rajungan termasuk ke dalam :
·         Kingdom                      : Animalia
·         Sub Kingdom             : Eumetazoa
·         Grade                          : Bilateria
·         Divisi                            : Eucoelomata
·         Section                        : Protostomia
·         Filum                           : Arthropoda
·         Kelas                           : Crustacea
·         Sub Kelas                    : Malacostraca
·         Ordo                            : Decapoda
·         Sub Ordo                     : Reptantia
·         Seksi                           : Brachyura
·         Sub Seksi                    : Branchyrhyncha
·         Famili                           : Portunidae
·         Sub Famili                   : Portunninae
·         Genus                          : Portunus
·         Spesies                        : Portunus pelagicus
Dari beberapa jenis kepiting yang dapat berenang (swimming crab), sebagian besar merupakan jenis rajungan. Sebagai contoh yang banyak terdapat di Teluk Jakarta adalah 7 jenis rajungan seperti Portunus pelagicus, P. sanguinolentus, Thalamita crenata, Thalamita danae, Charybdis cruciata, Charibdis natator, Podophthalmus vigil.
2.1.2. Morfologi
Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, dimana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam mulutnya, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung.
Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 gram, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi), Rajungan bisa mencapai panjang 18 cm, capitnya kokoh, panjang dan berduri-duri.
Rajungan mempunyai karapas berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Ukuran karapas lebih besar ke arah samping dengan permukaan yang tidak terlalu jelas pembagian daerahnya. Sebelah kiri dan kanan karapasnya terdapat duri besar, jumlah duri sisi belakang matanya sebanyak 9, 6, 5 atau 4 dan antara matanya terdapat 4 buah duri besar.
Pada hewan ini terlihat menyolok perbedaan antara jantan dan betina. Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa.
2.1.3. Habitat Rajungan
habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria.
Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang.
Sebagaimana halnya dengan kerabatnya, yaitu kepiting bakau, di alam makanan rajungan juga berupa ikan kecil, udang-udang kecil, binatang invertebrata, detritus dan merupakan binatang karnivora. Rajungan juga cukup tanggap terhadap pemberian pakan formula/pellet. Sewaktu masih stadia larva, hewan ini merupakan pemakan plankton, baik phyto maupun zooplakton.
2.1.4. Siklus Hidup
jika kondisi lingkungan memungkinkan, rajungan dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3 – 4 tahun. Sementara itu, pada umur 12 – 14 bulan rajungan sudah dianggap dewasa dan dapat dipijahkan. Sekali memijah, rajungan mampu menghasilkan jutaan telur. Di alam bebas, jumlah telur yang mampu menjadi rajungan dewasa sangat sedikit, karena terlalu banyak musuh alaminya.
2.2. Persyaratan Lokasi Pembenihan
Pemilihan lokasi merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pembenihan rajungan. lokasi pembenihan harus berada di tepi pantai, hal ini dikarenakan untuk penyediaan air laut sebagai media pemeliharaan. Air laut tersebut sebelum dimasukkan ke bak pemeliharaan terlebih dahulu disaring dengan menggunakan filter bag.  Bak yang akan digunakan berada didekat pantai dan penyediaan air laut lebih mudah untuk disalurkan secara langsung dengan cara dipompa, maka harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.      Kondisi dasar laut tidak berlumpur.
b.      Air laut yang dipompa harus bersih, jernih dan tidak tercemar dengan salinitas 30 – 34 ppt.
c.      Air laut dapat dipompa secara terus menerus minimal selama 20 jam.
2.3. Penyediaan Induk
2.3.1. Sumber Induk
Untuk mendapatkan larva awal (zoea) pada pembenihan rajungan adalah dengan cara membeli induk rajungan bertelur di luar (tingkat kematangan III). Induk rajungan dapat diperoleh dari pedagang pengumpul di sekitar lokasi unit pembenihan, atau dengan memesan langsung pada nelayan rajungan. Dengan kepadatan awal larva 100 ekor/liter dan kapasitas media pemeliharaan sebanyak 8.000 liter dibutuhkan 4 ekor induk rajungan bertelur, sehingga ketika memilih induk perlu diperhatikan juga tingkat kematangan telur (embrio) pada induk rajungan. Khusus di Jepara, induk rajungan bertelur per ekornya dibeli dengan harga Rp. 15.000,-.
2.3.2. Persyaratan Induk
adapun persyaratan untuk induk rajungan yang dipakai adalah induk matang telur Tk.III, dengan ukuran lebar karapas antara 12 – 15 cm dengan berat 100 – 300 gram.
2.3.3. Pemeliharaan Induk
            Induk sebanyak 10 ekor (9 betina dan 1 jantan) ditempatkan dalam bak pemeliharaan induk yang terbuat dari beton berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 3,2 x 1,8 x 1,2 m yang diisi air laut dengan salinitas berkisar 33 – 34 ppt dan suhu berkisar 30 – 310 C. Bak pemeliharaan tersebut dilengkapi sistem sirkulasi dan diberi aerasi. Selama pemeliharaan, induk rajungan diberi pakan berupa cumi-cumi 2 kali sehari. Pergantian air dilakukan sebanyak 50% volume setiap 2 minggu sekali dan dilakukan penyiponan sisa pakan dan kotoran setiap 2 atau 3 hari sekali, bergantung sisa pakan yang ada.
2.3.4. Seleksi Induk Matang Telur
            Proses seleksi yang dilakukan adalah untuk memilih induk yang telah matang telur dan siap ditetaskan. disarankan untuk memilih induk dengan warna telur masih kuning atau orange, hal ini dapat memberi waktu antara 3 – 6 hari bagi teknisi untuk mempersiapkan sarana serta media bagi pemeliharaan larva rajungan.
            untuk mengetahui induk yang mengandung telur maka dilakukan pengamatan setiap pagi hari. Bila induk telah mengandung telur berwarna kuning, maka induk tersebut dibiarkan dahulu selama 3 hari dalam bak pemeliharaan induk. Setelah itu dipindahkan dalam bak akuarium volume 150 liter yang diberi lapisan pasir dan sirkulasi air dengan sistem ‘’double bottom’’ dan diberi aerasi. Pengamatan telur dilakukan secara intensif setiap pagi hari untuk melihat perubahan warna telur tersebut. Bila warna telur telah berubah dari kuning, ke coklat dan hitam seluruhnya dan secara mikroskopik dilihat pada pinggiran telur tersebut telah berwarna jingga, maka induk tersebut dipindahkan ke dalam wadah penetasan pada sore hari.
2.4. Pengeraman dan Penetasan Telur
sebelum dipelihara di bak pengeraman, rajungan satu persatu dibersihkan terlebih dahulu dengan air laut steril yang telah dipersiapkan, 1 ekor induk bertelur ditempatkan dalam 1 bak pengeraman. Penggantian air pada bak pengeraman dilakukan setiap hari sebanyak 100%, dan selama masa pengeraman induk bertelur tidak diberi pakan (pemuasaan) Hal ini untuk mengurangi kontaminasi dari pakan segar yang diberi terhadap telur yang sedang dierami. Selain itu, pada masa pengeraman induk rajungan tidak mau makan.
Penetasan telur berlangsung selama 1 – 2 hari setelah induk dimasukkan ke dalam bak penetasan. Penetasan berlangsung pada pagi hari antara pukul 06.30 hingga pukul 09.00 selama ± 1 – 2 jam. Dalam proses penetasan, induk rajungan akan berenang berkeliling dalam bak penetasan dengan mengibaskan kaki renangnya secara cepat sambil jalan menggaruk-menggaruk masa telur. Induk rajungan yang berukuran besar akan menghasilkan zoea lebih banyak. Seekor induk rajungan dapat menghasilkan telur sekitar 1 – 2 juta pada ukuran lebar karapas 10 cm – 12 cm dengan derajat penetasan berkisar 95% – 98%.
2.5. Pemeliharaan Larva
2.5.1. Persiapan Media Pemeliharaan Larva
Langkah awal yang dilakukan dalam pemeliharaan larva rajungan yaitu menyiapkan bak dengan melengkapi sistem aerasi dan mengisi air laut sebanyak tiga perempat dari volume bak. Diusahakan dapat mempertahankan suhu air yang konstan 29,50 C – 30,00C, salinitas air 30 – 33 ppt, pH air sekitar 8 – 8,5,  oksigen terlarut 4,5 – 5,2 mg/L atau dengan kecepatan aerasi 60 – 75 detik/Lt dan intesitas cahaya sekitar 2.500 – 3000 lux. Untuk pengaturan suhu air supaya tidak terlalu berfluktuasi antara siang dan malam, maka dapat dilakukan dengan menutup bak dengan plastik yang diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu teknisi yang bekerja atau dapat juga dengan memberikan alat pemanas otomatis.
sebelum dilakukan penebaran, bak pemeliharaan larva harus disiapkan terlebih dahulu sebaik mungkin sesuai dengan kebutuhan bagi kehidupan larva kepiting. Air yang jernih dapat diperoleh dengan proses penyaringan di saringan pasir (sand filter ) dan diendapkan selama dua hari.
air media pemeliharaan digunakan air laut dengan salinitas antara 31 – 33 ppt, yang telah disaring terlebih dahulu dengan menggunakan sand filter pada bak reservoir. Pada bak pemeliharaan dilengkapi dengan 9 buah batu aerasi dengan jarak antar batu aerasi 0,5 m. Kekuatan aerasi diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu kuat atau lemah tekanannya.
2.5.2. Penebaran Larva
larva yang baru menetas (zoea-1) dari bak penetasan, dengan kondisi larva sehat umumnya berkumpul pada bagian tertentu (melayang di bagian atas media air) dan diambil secara perlahan dengan gayung. Larva kemudian ditampung dalam wadah volume 100 liter dan diberi aerasi secara terus menerus dan dihitung. Larva rajungan diberi larutan formalin dosis 25 mg/L selama 30 menit, dan iodine dosis 150 mg/L selama 10 menit, dengan maksud agar terbebas dari kontaminasi bakteri, parasit dan jamur. Pemberian formalin dan iodine dapat dilakukan dengan melarutkannya dalam gayung kemudian dituangkan secara perlahan dalam bak larva. Larva rajungan yang sehat ditunjukkan dengan gerakan yang lincah, ukurannya cukup besar (panjang karapas : 500 – 550 mm).
dengan padat penebaran sebesar 50 – 100 ekor/liter, maka untuk bak pembenihan rajungan dengan volume media pemeliharaan 8.000 liter dibutuhkan larva zoea sebanyak 400.000 – 800.000 ekor. Larva yang sudah diseleksi dan dihitung kemudian ditebar pada bak pemeliharaan larva secara hati-hati.
2.5.3. Pengelolaan Pakan
Selama masa pemeliharaan, larva rajungan diberi pakan berupa makanan alami dan pakan tambahan (artificial feed). pakan yang digunakan selama pemeliharaan rajungan adalah sebagai berikut :
a. Chlorella sp
Pemberian inokulant chlorella sp dilakukan sebelum larva zoea rajungan ditebar ke bak pembenihan dengan kepadatan 50.000 – 500.000 sel/ml, kepadatan demikian terus dipertahankan hingga rajungan menjadi benih dan siap untuk dipanen. Chlorella sp yang diberikan berfungsi sebagai pakan bagi rotifera sekaligus mengurangi intensitas cahaya matahari masuk. Penambahan inokulant plankton ke media pembenihan tergantung pada kepadatan chlorella sp di air media pembenihan.
b. Rotifera (Brachionus sp)
Rotifera diberikan setelah larva zoea ditebar ke bak pembenihan, pemberian rotifera dilakukan selama 7 hari yaitu pada saat penebaran hingga hari ke-6 dengan kepadatan sebesar 5 – 15 ekor/ml. Rotifera diberikan hanya sekali sehari dan diberikan pada pagi hari. Untuk bak pembenihan rajungan kapasitas 8.000 liter diperlukan 6,25 – 10 ekor/ml.
c. Naupli Artemia
Naupli artemia diberikan pada hari ke-2 setelah penebaran larva zoea hingga larva rajungan menjadi crab 1 (hari 13 atau 14). Naupli artemia diberikan berkisar 5 – 20 Naupli/larva/hari. Pada awal pemeliharaan yaitu dari umur 1 – 6 hari naupli yang diberikan sebesar 5 – 7 Naupli/larva/hari. Ketika larva rajungan mulai umur 7 hari hingga hari ke-13 naupli artemia yang diberikan adalah sebesar 10 – 20 Naupli/larva/hari. Naupli artemia diberikan 2 kali yaitu pada pagi hari (Jam 08.00 WIB) serta malam hari (jam 20.00 WIB).
artemia sangat populer di pasaran dengan merek dagang yang bermacam-macam. Juga dengan kemasannya. Kista artemia dalam kemasan kaleng vakum seberat 425 g/kaleng, sementara dalam kemasan plastik antara 500 – 1000 gram. Untuk menyiapkan pakan larva rajungan yang berupa nauplius artemia, pertama dengan menyiapkan bak penetasan kista artemia dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam kaleng kista tersebut.
d. Pakan Buatan
Pada pembenihan rajungan, pakan buatan yang dipergunakan merupakan pakan komersial yang biasa dipergunakan pada pembenihan udang windu. Ukuran pakan yang digunakan berkisar antara 100 – 400 mikron, dimana ukuran pakan 100 – 150 mikron pada hari 1 – 6, ukuran 200 – 300 mikron pada hari 7 – 13 sedangkan ukuran > 400 mikron dipergunakan mulai umur pemeliharaan hari ke-14 . Frekuensi pemberian pakan buatan 4x sehari, dengan dosis pakan yang diberikan mulai 0,4 ppm hingga 1 ppm. Pakan buatan mulai diberikan pada hari pertama hingga larva zoea rajungan siap panen.
e. Udang Kupas
Pemberian udang kupasan yang telah dihaluskan (diblender) dilakukan ketika larva rajungan menjadi Crab-1 (hari 13 atau 14) hingga panen (Crab-5 pada hari ke-16). Jumlah udang kupas halus yang diberikan berkisar 10 – 30 gram per 5.000 ekor crab. Biasanya udang kupas halus pada crab 1 2  diberikan sebanyak 160 – 200 gram per harinya, jumlah pemberian udang kupas halus ini akan meningkat hingga 450 gram mulai crab 3 hingga benih siap dipanen.
Tabel 1. Dosis pakan komersial, rotifera dan naupli artemia yang diberikan selama pemeliharaan larva rajungan
Stadia
Larva
Dosis
pakan
komersial g/M3/hari
Ukuran
partikel
pakan
komersial
(mm)
Frekuensi
pemberian
(kali/hari)
Kepadata
rotifera
(ind./mL)
Kepadata
artemia
(ind./mL)
Zoea- 1
0,5 – 2
5 – 30
3
7
0,5
Zoea- 2
2 – 3
30 – 90
3
10
1,0
Zoea- 3
4 – 5
30 – 90 dan
150 – 200
3
15
1,5
Zoea- 4
6 – 8
150 – 200
3
20
2,0
Megalopa
8 – 10
150 – 200
3
-
2,0
Sumber : Susanto, dkk., (2005).
2.5.4. Pengelolaan Kualitas Air Media Pemeliharaan Larva
Sumber air yang baik digunakan dalam pemeliharaan larva rajungan berupa air laut yang disaring dengan filter pasir, kemudian disucihamakan dengan chlorin. sumber air untuk pemeliharaan larva rajungan berasal dari laut yang telah disaring dengan filter pasir, kemudian disterilkan dengan Sodium hypochlorit dan dinetralkan dengan Sodium thiosulfate.
Pergantian air dalam bak pemeliharaan larva dimulai saat stadia zoea-2 yaitu sebanyak 10% per hari, kemudian meningkat sampai stadia megalopa menjadi 20% – 50% per hari.
pergantian air dapat dilakukan setelah menginjak zoea-3, yaitu sebanyak 25%. Pergantian air dapat ditingkatkan menjadi 30% untuk zoea-4 dan stadium megalopa ke atas. Pergantian air diatur sedemikian rupa sehingga salinitasnya pelan-pelan turun hingga pada salinitas 25 ppt pada saat larva mencapai fase kepiting muda (crab). Pada saat pergantian air hendaknya diusahakan agar tidak terjadi perubahan (fluktuasi) suhu dan salinitas yang terlalu tinggi.
2.5.5. Monitoring Pertumbuhan
Laju pertumbuhan dan tingkat kehidupan (Survival rate) dapat diketahui dengan cara melakukan sampling. Sampling dilakukan pada malam hari karena larva rajungan tertarik pada cahaya (Fototaksis positif) sehingga memudahkan pengamatan terhadap larva. Jika permukaan air bak diberi sinar, (misalnya lampu senter), maka larva akan berkumpul di permukaan air. Untuk mengambil sampel, larva dapat diambil dengan menggunakan pipa sepanjang ± 1,5 m yang dilengkapi kran.
Pengambilan sampel dilakukan dengan mencelupkan pipa dalam keadaan kran terbuka sampai tinggi air dalam pipa sama dengan tinggi air dalam bak pemeliharaan larva. Kemudian, kran ditutup dan ujung pipa bagian bawah disumbat dengan telapak tangan. Dengan demikian, air sampel dalam pipa terhisap ke atas sehingga pada saat diangkat air sampel tidak jatuh kedalam bak pemeliharaan larva. Sampling dilakukan minimal 2 hari sekali karena masa kritis benih rajungan terletak pada larva, terutama larva yang masih stadia zoea. Untuk memudahkan perhitungan larva, sebaiknya disediakan alat penghitung larva. Agar tampak jelas pada perhitungan larva, maka diperlukan wadah yang berwarna putih untuk menampung sampel yang akan dihitung.
Perkembangan zoea dimonitor setiap hari dengan melihat perubahan bentuk zoea di bawah mikroskop. Pengamatan perkembangan zoea ini penting karena berhubungan dengan jenis dan dosis pakan yang akan diberikan. Perkembangan stadia zoea rajungan yang tersaji pada Gambar 4. Pada stadia zoea-1 dapat ditandai dengan melihat pereiopod berjumlah 4 buah, sedang zoea-2 berjumlah 6 buah atau lebih. Stadia zoea-3, mulai muncul/tumbuh pleopod, dan zoea-4 pleopod tumbuh lebih panjang, kemudian bermetamorfosis menjadi megalopa.
2.5.6. Pengendalian Penyakit
Selain melakukan kegiatan penggantian air untuk menjaga kualitas air tetap baik, dilakukan pula usaha preventif (pencegahan) timbulnya penyakit dengan cara pemberian obat-obatan. Pemberian obat-obatan ini dilakukan setiap tiga hari sekali. Obat-obatan yang digunakan selama melakukan pemeliharaan larva rajungan ini adalah antibiotik Erithromycin 1,3 ppm, herbisida treflan 0,02 ppm dan Furazolidon 1 ppm. Pemberian obat-obatan ini dilakukan berselang-seling dengan maksud agar spectrum organisme pathogen yang dikendalikan lebih luas.
Respon larva rajungan terhadap obat-obatan dan antibiotik yang diberikan selama pemeliharaan cukup baik yaitu larva rajungan tidak mati saat diberi perlakuan tersebut. Namun demikian, penggunaan obat-obatan atau antibiotik secara terus menerus tidak dianjurkan. Untuk mencegah timbulnya penyakit pada pemeliharaan larva rajungan dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan bilogis medium pemeliharaan larva.
2.6. Panen dan Pasca Panen
2.6.1. Panen
kegiatan panen dilakukan setelah seluruh larva memasuki stadia crab-1, yakni setelah berkisar 30 – 40 hari pemeliharaan. Ukuran crab-1 yang dipanen mempunyai lebar karapas antara 2 – 4 mm dan panjang 2 – 4 mm. Alat yang diperlukan untuk panen larva rajungan adalah saringan, serok dan mangkok plastik.
Cara panen larva rajungan dilakukan dengan cara mengurangi air media pemeliharaan melalui saringan hingga mencapai ketinggian air 10 cm. Kemudian benih ditangkap dengan menggunakan scopnet/seser.
2.6.2. Pasca Panen
            Larva rajungan yang dipanen ditampung di dalam ember plastik yang diberi aerasi lemah. Penghitungan larva dilakukan dengan menggunakan mangkok plastik putih. Kemudian, benih rajungan yang telah dihitung segera dipindahkan ke dalam wadah yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan dasar bak yang diberi pasir halus setebal 0,5 cm sebagai tempat untuk berlindung.


DAFTAR PUSTAKA
BBAP Jepara. 1992. Laporan Uji Coba Pemeliharaan Larva Kepiting Scylla serrata Forskal. Direktorat Jenderal Perikanan Balai Budidaya Air Payau Jepara.

Juwana, S. 1997. Tinjauan Tentang Perkembangan Penelitian Budidaya Rajungan (Portunus pelagicus). Jurnal Oseanografi LIPI 22: 1-12.  

Kanna, I. 2002. Budidaya Kepiting Bakau Pembenihan dan Pembesaran. Kanisius. Yogyakarta

Liviawaty, E. dan Afrianto. 1992. Pemeliharaan Kepiting. Kanisius. Yogyakarta.

Soim, A. 1994. Pembesaran Kepiting. Penebar Swadaya. Jakarta.

Susanto, B., dkk. 2005. Pedoman Teknis Teknologi Perbenihan Rajungan (Portunus pelagicus). Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta.

Syahidah, D., B. Susanto, I. Setiadi., 2003. Percobaan Pemeliharaan Megalopa Rajungan, Portunus pelagicus Sampai Menjadi Rajungan Muda (Crablet 1) Dengan Kisaran Salinitas Berbeda. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Gondol 2: 1-6.





Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei




1.1      Latar Belakang
Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi perikanan. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan di air payau adalah udang windu, namun setelah mewabahnya penyakit WSSV yang mengakibatkan menurunnya usaha udang windu, pemerintah kemudian mengintroduksi udang vannamei untuk membangkitkan kembali usaha perudangan di Indonesia dan dalam rangka diversifikasi komoditas perikanan
Udang vannameii (Litopenaeus vannameii) merupakan udang asli perairan Amerika Latin yang masuk ke dalam famili Penaidae. Udang ini dibudidayakan mulai dari pantai barat Meksiko ke arah selatan hingga daerah Peru. Udang vannameii merupakan komoditas air payau yang banyak diminati karena memiliki keunggulan seperti tahan terhadap penyakit, mempunyai tingkat pertumbuhan yang relatif cepat, dan sintasan pemeliharaan yang tinggi
Udang vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Produksi benur udang vannameii dirintis sejak awal tahun 2003 oleh sejumlah hatchery, terutama di Situbondo dan Banyuwangi (Jawa Timur). Budidaya uji coba sudah dilakukan dan memperoleh hasil yang memuaskan. Setelah melalui serangkaian penelitian dan kajian, akhirnya pemerintah secara resmi melepas udang vannameii sebagai varietas unggul pada 12 Juli 2001 melalui SK Menteri KP No.41/2001.
angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang merangkak naik dibandingkan bulan sebelumnya. Tercatat angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang pada Juli 2010 sebanyak 3.000 MT (Metrik Ton) atau meningkat 705 MT dibandingkan bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, produksi yang dibukukan Indonesia yakni di angka 2.934 MT hanya lebih kecil 66 MT dari tahun 2010.
Permintaan udang yang semakin meningkat dapat dilihat dari volume ekspor udang Indonesia pada tahun 2010 yang mencapai USD 1,57 miliar atau 63,3 % dari total nilai ekspor hasil perikanan Indonesia sebesar USD 2,34 miliar
Sejak tahun 2005, pemerintah mencanangkan budidaya udang sebagai salah satu komoditas unggulan revitalisasi perikanan. Untuk mencapai target produksi udang sebesar 540.000 ton, diperlukan induk sedikitnya 900.000 ekor dan benur udang 52,31 milyar ekor. Produksi udang vannameii selama ini dikembangkan dengan teknologi semi intensif dan intensif. Melalui manajemen budidaya yang lebih baik  ditargetkan  produksinya dapat meningkat sebesar 17,38% per tahun, yaitu: 275 ribu ton pada tahun 2010 menjadi 500 ribu ton tahun 2014
Sampai saat ini, benur yang diproduksi hatchery belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Kendalanya adalah kurang stok induk udang, makanan yang kurang cocok, serta teknik pemeliharaan larva dan pengelolaan yang belum memadai, hal ini menyebabkan produksi rendah. 
          Masalah besar yang dihadapi dalam melakukan usaha pemeliharaan larva udang vannameii adalah keterbatasan pengalaman dan teknologi yang dapat menjamin benih yang dihasilkan akan berkualitas baik. Salah satu upaya guna mendapatkan  benur berkualitas baik yaitu selalu mengupayakan agar media pemeliharaan selalu optimal untuk pemeliharaan larva, misalnya dengan melakukan pengelolaan air media larva, pengelolaan pakan dan pengendalian penyakit sebaik mungkin.
2.1     Biologi Udang Vannamei
2.1.1  Klasifikasi
          tata nama udang vannamei (Litopenaeus vannamei) menurut ilmu taksonomi adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Animalia
Subkingdom    : Metazoa
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustacea     
Subkelas         : Eumalacostraca
Superordo       : Eucarida
Ordo                : Decapoda
Subordo          : Dendrobrachiata
Famili              : Penaeidae
Genus                         : Litopenaeus
Spesies           : Litopenaeus vannamei
2.1.2  Morfologi
          tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous) yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau exoskeleton secara periodik (moulting).
Kepala (Chepalotorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped dan lima pasang kaki jalan (periopoda). Maxiliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk periopoda beruas – ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki 1, 2, dan 3) dan tanpa capit kaki 4 dan 5.
Perut (abdomen) terdiri dari enam ruas. Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang dan sepasang uropoda (mirip ekor) yang berbentuk kipas bersama-sama telson. Udang vannamei mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna dari perkembangan ovarinya jelas terlihat.
2.1.4  Habitat
          udang vannamei hidup di habitat laut topis dimana suhu air biasanya lebih dari 20°C sepanjang tahun dan akan menghabiskan siklus hidupnya di muara air payau. Udang vannamei dewasa dan bertelur di laut terbuka, sedangkan pada stadia postlarva udang vannamei akan bermigrasi ke pantai sampai pada stadia juvenil.
2.1.5  Tingkah Laku
          udang vannamei bersifat nokturnal. Selain itu, udang vannamei juga tahan terhadap kisaran salinitas tinggi dan salinitas rendah atau biasa disebut eurihalyn. Udang vannamei akan memangsa sesamanya (kanibalisme) apabila dalam pemberian pakan tidak tepat pada waktunya. Udang vannamei mempunyai sifat pemakan lambat dan akan makan secara terus menerus. Makanan yang akan dimakannya dicari dengan menggunakan organ sensornya.
          Udang vannamei merupakan hewan yang memakan segala jenis makanan (omnivor). Dalam mengidentifikasi makanan, udang vannamei menggunakan sinyal kimiawi dengan bantuan organ sensor atau bulu-bulu di bagian kepala. Udang vannamei akan mengalami proses pergantian kulit (moulting) yang dipengaruhi oleh tingkat jenis dan umur. Pada saat berumur muda, udang vannamei akan melakukan moulting setiap hari, dan apabila umurnya semakin tua siklus akan terjadi semakin lama. Nafsu makan akan turun 1 – 2 hari sebelum moulting terjadi dan aktifitas udang vannamei akan berhenti secara total. Proses moulting umumnya terjadi pada malam hari.
          Udang vannamei melakukan pembuahan dengan cara memasukan sperma lebih awal ke dalam thelycum udang betina selama memijah sampai udang jantan melakukan moulting. pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari pemijahan. Setelah perkawinan, induk betina akan mengeluarkan telur yang disebut dengan pemijahan (spawning). Perkawinan lebih bersifat open thelycum, yaitu setelah gonad mengalami matang telur.
2.1.6  Siklus Hidup
          Perkembangan Siklus hidup udang vannamei adalah dari pembuahan telur berkembang menjadi naupli, mysis, post larva, juvenil, dan terakhir berkembang menjadi udang dewasa. Udang dewasa memijah secara seksual di air laut dalam.  Masuk ke stadia larva, dari stadia naupli sampai pada stadia juvenil berpindah ke perairan yang lebih dangkal dimana terdapat banyak vegetasi yang dapat berfungsi sebagai tempat pemeliharaan. Setelah mencapai remaja, mereka kembali ke laut lepas menjadi dewasa dan siklus hidup berlanjut kembali.
2.1.7  Perkembangan Larva Udang Vannamei
          naupli merupakan stadia paling awal pada stadia larva udang vannamei. Kemudian berubah menjadi stadia zoea. Zoea merupakan stadia kedua pada larva udang vannamei. Kemudian bermetamorfosa ke stadia mysis. Stadia mysis merupakan stadia ketiga dari larva udang vannamei yang merupakan stadia terakhir pada larva udang vannamei. Mysis mempunyai karakteristik menyerupai udang dewasa, seperti bagian tubuh, mata, dan karakteristik ekornya. Stadia mysis akan berakhir pada hari ke tiga atau hari keempat, dimana selanjutnya akan bermetamorfosa menjadi post larva (PL). Pada PL 10 sudah terlihat seperti udang dewasa.
          perkembangan larva udang vannamei setelah telur menetas adalah sebagai berikut :
a. Stadia Naupli.
Pada stadia ini, naupli berukuran 0,32-0,58 mm. Sistem pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan serupa kuning telur sehingga pada stadia ini benih udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar. Dalam fase Naupli ini larva mengalami enam kali pergantian bentuk dengan tanda-tanda sebagai berikut ;
Nauplius I           ; Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga   pasang
Nauplius II          ; Pada ujung antena pertama terdapat seta (rambut), yang satu panjang dan dua lainnya pendek
Nauplius III         ; Furcal dua buah mulai jelas masing-masing dengan tiga duri(spine), tunas maxilla dan maxilliped mulai tampak.
Nauplius IV         ; Pada masing-masing furcal terdapat empat buah duri, Exopoda pada antena kedua beruas-ruas.
Nauplius V          ; Organ pada bagian depan sudah tampak jelas disertai dengan tumbuhnya benjolan pada pangkal maxilla.
Nauplius VI         ; Perkembangan bulu-bulu semakin sempurna dari duri pada furcal tumbuh makin panjang.
b. Stadia Zoea
          Stadia Zoea terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar     15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 3, lama waktu proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4-5 hari.
          Fase zoea terdiri dari tingkatan-tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang berbeda sesuai dengan perkembangan dari tingkatannya, seperti diuraikan berikut ini :
Zoea  I       : Bentuk badan pipih, carapace dan badan mulai nampak, maxilla pertama dan kedua serta maxilliped pertama dan kedua mulai berfungsi. Proses mulai sempurna dan alat pencernaan makanan nampak jelas.
Zoea  II      : Mata bertangkai, pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supra orbital yang bercabang
Zoea  III     : Sepasang uropoda yang bercabang dua (Biramus) mulai berkembang duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh.
c. Stadia Mysis
          Pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50-4,80 mm.
          Fase ini mengalami tiga perubahan dengan tanda-tanda sebagai berikut :
Mysis  I            : Bentuk badan sudah seperti udang dewasa, tetapi kaki renang    (Pleopoda) masih belum nampak.
Mysis  II           : Tunas kaki renang mulai nampak nyata, belum beruas-ruas.
Mysis  III          : Kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas.
d.  Stadia Post Larva (PL)
Stadia ini, benih udang vannamei sudah tampak seperti udang dewasa. Hitungan stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. Misalnya, PL 1 berarti post larva berumur 1 hari. Pada stadia ini udang mulai aktif bergerak lurus ke depan.
2.2     Persyaratan Lokasi
Lokasi yang paling tepat untuk membangun hatchery pembenihan udang vannamei adalah jauh dari kota dan lahan pertanian, serta muara sungai. Hatchery harus jauh dari fasilitas produksi. Hatchery memerlukan akses ke prasarana standar industri untuk mengoprasikan fasilitas yang ada. Air tawar dan air laut yang masuk dan kemungkinan mengandung bahan pencemar harus dimonitor sesuai dengan cara budidaya ikan yang baik
tempat yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tempat yang berpasir dan berbatu dimana tempat tersebut bersih, bebas dari cemaran, dan mempunyai kualitas air yang bagus setiap tahunnya. Tempat yang sering terkena banjir dan berlumpur kurang tepat untuk dijadikan hatchery karena pada waktu terjadi hujan air akan menjadi sangat keruh. Selain itu, lokasi yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tidak berdekatan dengan muara sungai  karena dapat menurunkan salinitas secara mendadak, dimana hal tersebut sering terjadi pada waktu hujan lebat. Keuntungan dari lokasi hatchery yang berpasir dan berbatu adalah kualitas air laut menjadi bagus dan secara relatif mendekati garis pantai sehingga mengurangi kerugian pada instalasi pemipaan dan kerugian pada pemompaan. Lokasi hatchery juga harus bebas dari kontaminasi limbah pertanian dan limbah industri. Parameter kualitas air yang tepat untuk kegiatan pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.  Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Larva
Parameter
Ukuran
Temperature
28 – 32°C
DO
> 5 ppm
CO2
< 20 ppm
pH
7 – 8.3
Salinitas
25 – 35 ppt
ammonia (NH3)
< 0.03 ppm
Nitrit (NO2)
< 1 ppm
Nitrat (NO3)
< 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S)
< 2 ppb

          Listrik adalah salah satu yang dibutuhkan untuk menjalankan peralatan dan semua yang mendukung sistem di hatchery. Walaupun beberapa pompa air laut dan aerator dapat dijalankan secara langsung oleh generator, hatchery dapat dioprasikan tanpa adanya suplai listrik. Bagaimanapun, lebih ekonomis apabila dijalankan di area dimana sumber listrik dapak diakses.
          Sebaiknya hatchery bertempat di area dimana banyak petani udang beroperasi, jadi larva yang diproduksi dapat dengan mudah dikirimkan dan disalurkan ke tambak. Pemilihan tempat untuk pembangunan hatchery harus dapat diakses dari fasilitas komunikasi dan transportasi.
2.3     Fasilitas Pemeliharaan larva
fasilitas yang digunakan untuk  pemeliharaan larva terbagi menjadi dua, yaitu fasilitas pokok dan fasilitas pendukung yang secara prinsip diperlukan untuk usaha pemeliharaan larva udang vannameii adalah sebagai berikut :
a.   Fasilitas Pokok
1.   Bak Filter, yaitu bak penyaring air dengan komponen penyaring berupa koral, pasir, arang, ijuk, dengan menggunakan waring sebagai pemisah komponen.
2.   Bak tandon air tawar dan air laut, yaitu bak bak penampung air laut dan air tawar yang terbuat dari beton dengan volume minimal 30% dari kapasitas total bak pemeliharaan.
3.   Bak pemeliharaan larva, yaitu bak tempat pemeliharaan larva yang terbuat dari semen maupun fiber plastik dengan volume minimal 10 m3.
4.   Bak kultur fitoplankton, yaitu tempat kultur fitoplankton sebagai penyedia pakan untuk larva yang berbentuk persegi empat  dengan volume 20% - 40% dari bak larva.
5.   Penetasan kista artemia, yaitu untuk menetaskan telur artemia sebagai makanan larva udang yang berbahan fiber glass maupun plastik dengan volume 0,02 m3.
6.   Tenaga listrik, dapat disuplai dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) di daerah terkait.
7.   Pompa air atau sarana penyedia air: pompa air laut dengan kapasitas pompa yang dapat memompa air laut dengan volume minimal 30 % per hari dari total volume air yang dibutuhkan dalam bak pemeliharaan benur, dan pompa air tawar dengan kapasitas minimal 5 % dari total volume air bak atau sarana penyedia air yang kemampuannya setara dengan kapasitas di atas.
8.   Aerasi blower/hi blow, selang aerasi, batu aerasi.
b.  Fasilitas Pendukung
1.   Peralatan lapangan: seser, saringan pembuangan air, kantong saringan air, gelas piala, sepatu lapangan, senter, gayung, ember, timbangan, selang, saringan pakan, alat sipon, peralatan panen.
2.   Peralatan laboratorium: pengukur kualitas air (termometer, refraktometer, pH meter atau kertas pH) dan mikroskop.
3.   Generator. Peralatan ini sangat dibutuhkan, meskipun unit pembenihan tersebut mempergunakan sumber listrik PLN, khususnya jika terjadi gangguan listrik PLN.
2.4     Kegiatan Pemeliharaan Larva
2.4.1  Persiapan Bak dan Media Pemeliharaan Larva
          Bak yang akan digunakan untuk kegiatan pemeliharaan larva sebelumnya harus dibersihkan dan diberi desinfektan.  Bak dibersihkan menggunakan air bersih dan detergen dengan cara menyikat seluruh permukaan dinding bak. Hal tersebut bertujuan untuk membuang seluruh kotoran yang ada dalam bak pemeliharaan. Kemudian diberi desinfektan berupa hypochlorite sebanyak        20 – 30 ppm, dan dibilas menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa dari chlorine, kemudian bak yang sudah dibersihkan dijemur. Bak yang berada di luar ruangan dan bak yang berukuran kecil dapat disterilisasi dengan cara penjemuran terhadap bak tersebut
          bak yang akan digunakan untuk tempat pemeliharaan larva dibersihkan menggunakan bleaching powder, kemudian dibilas menggunakan air tawar dan dijemur selama 24 jam.   Sebagian dari bak pemeliharaan diisi air laut, selanjutnya dilakukan pemasangan aerasi pada beberapa titik bak pemeliharaan. sebelum bak pemeliharaan larva digunakan untuk siklus selanjutnya, bak harus dicuci menggunakan larutan Hydrocloric Acid (HCl) kemudian dibilas menggunakan air tawar atau air laut.
          Air yang masuk ke unit pembenihan harus dibersihkan dan diberi desinfektan berupa chlorin dan dilakukan proses filtrasi sebelum didistribusikan ke area pembenihan seperti hatchery, kultur plankton, artemia, dan lain-lain. air yang digunakan untuk kegiatan pembenihan di hatchery harus difilter dan ditreatmen untuk mencegah masuknya organisme yang membawa penyakit dan patogen yang terbawa oleh air. Air yang akan digunakan, biasanya diberi desinfektan berupa chlorin. Kemudian air disaring menggunakan filter bag dan terakhir didesinfektan kembali menggunakan sinar ultraviolet (UV) atau ozon. air laut dalam bak pemeliharaaan larva ditreatmen menggunakan EDTA sebanyak 10 ppm dan trefflan sebanyak 0,1 ppm.
2.4.2  Penebaran naupli
          Naupli ditebar setelah persiapan bak dan media pemelihraan larva selesai dilakukan. Padat penebaran naupli maksimal adalah 100 ekor per liter dengan ukuran naupli yaitu 0,5 mm. naupli yang akan ditebar pada bak pemeliharaan harus mempunyai kualitas yang baik, berikut adalah ciri naupli yang mempunyai kualitas baik :
Ø Warna coklat orange
Ø Gerakan berenang aktif, periode bergerak lebih lama dibandingkan dari periode diam
Ø Kondisi organ tubuh lengkap, ukuran dan bentuk normal serta bebas patogen
Ø Respon terhadap rangsangan bersifat fototaktis positif
          kepadatan larva yang ditebar dalam bak pemeliharaan larva paling sedikit adalah 75 ekor naupli per liter. naupli yang ditebar dalam bak pemeliharan larva mempunyai kepadatan 100 sampai dengan 150 ekor naupli per liter atau atau 100.000 sampai dengan 150.000 ekor naupli per ton.
          penebaran naupli dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi.
          sebelum naupli ditebar pada bak pemeliharaan larva, harus dilakukan aklimatisasi. Aklimatisasi yang dilakukan berupa penyesuaian suhu dan salinitas air terhadap naupli. Proses aklimatisasi ini dilakukan hingga menunjukan naupli sudah dapat beradaptasi dengan media air dalam bak pemeliharaan larva.
2.4.3  Pengelolaan Pakan
a.   Pakan Alami
pakan alami yang diberikan kepada larva udang vannamei adalah fitoplankton dan zooplankton. Beberapa jenis fitoplankton yang digunakan untuk makanan larva udang adalah Skeletonema costatum, Tetraselmis chuii, Chaetoceros calcitrans. Sedangkan nauplius artemia merupakan zooplankton yang banyak diberikan pada larva udang. Hal ini dikarenakan nauplius artemia banyak mengandung nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh larva udang.  
Pemberian pakan alami berupa Chaetoceros diberikan mulai dari stadia zoea 1 sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan, karena pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan. pada stadia naupli belum memerlukan makanan karena masih mempunyai cadangan makanan berupa egg yolk selama 36 – 72 jam. Stadia zoea larva udang vannameii diberi makanan skeletonema sp., chaetoceros sp., dan  Thalassiosira.
pemberian algae berupa Chaetoserros dan Thallasiosiosirra pada stadia naupli diberikan sebanyak 60.000 sel/ml, stadia zoea 1 sebanyak 80.000 sel/ml, pada stadia zoea 2 diberikan sebanyak      80.000 – 100.000 sel/ml, stadia zoea 3 – mysis 1 diberikan sebanyak 100.000 sel/ml, dan pada stadia mysis 2 - 3 diberikan sebanyak 80.000 sel/ml.
Dalam melakukan kultur artemia sebelumnya menentukan banyaknya artemia yang dibutuhkan sebagai pakan larva, setelah itu dilakukan kultur cyste artemia dengan menebarkan cyste artemia dan memberikan aerasi yang kuat dalam tank kultur untuk mempercepat penetasan. Setelah cyste menetas dilakukan pemisahan antara cangkang artemia dengan naupli artemia, kemudian dilakukan pemanenan artemia
pemberian pakan artemia dilakukan enam kali dalam satu hari yaitu pada pukul 00.00, 04.00, 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00. Greece dan Fox (2000), menyatakan bahwa naupli artemia yang baru menetas diberi aerasi baru diberikan untuk larva. . Hal ini dilakukan agar naupli dalam penampungan sementara tetap dalam kondisi hidup. Selanjutnya naupli artemia diberikan menggunakan beacker glass dengan cara ditebarkan secara merata.
b.  Pakan Buatan
kriteria pakan buatan yang berkualitas baik adalah sebagai berikut:
a.    Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan
b.    Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan
c.    Pakan mudah dicerna
d.    Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh
e.    Memilki rasa yang disukai ikan
f.     Kandungan abunya rendah
g.    Tingkat efektivitasnya tinggi
pakan buatan yang biasa diberikan untuk larva udang vannamei adalah pakan dalam bentuk bubuk, cair dan flake (lempeng tipis) dengan ukuran partikel sesuai dengan stadianya. Kadungan nutrisi pada pakan buatan larva udang vannamei terdiri dari protein minimum 40 % dan lemak maksimum 10 %. kandungan nutrisi pada pakan buatan larva udang vannamei terdiri dari protein 28 – 30 %, lemak 6 – 8 %, serat (maksimal) 4 %, kelembaban (maksimal) 11 %, kalsium (Ca) 1,5 – 2 %, dan fosfor (phosphorus) 1 – 1,5 %.
Pakan buatan yang akan diberikan sebelumnya disaring menggunakan saringan berukuran 10 – 80 mikron. Pakan diberikan sampai pada stadia zoea 3. Pada stadia mysis Pakan buatan diberikan dengan cara disaring menggunakan saringan berukuran 50 – 150 mikron, Pakan buatan yang diberikan pada stadia PL 1 – PL 8 sebelumnya disaring menggunakan saringan berukuran 200 – 300 mikron, sedangkan pada stadia PL 9 sampai dengan panen sebelumnya disaring menggunakan saringan dengan ukuran  300 – 500 mikron. Ukuran partikel pakan buatan pada tiap stadia dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.  Ukuran Partikel Pakan Buatan Sesuai Stadia
No.
Stadia
Satuan
Ukuran
1.
Zoea
μm
50 – 100
2.
Mysis
μm
100 – 200
3.
Postlarva
μm
200 – 300

Frekuensi pemberian pakan dilakukan enam kali dalam satu hari, dilakukan empat jam sekali dengan pemberian dilakukan secara berselang-seling antara pakan alami dan pakan buatan. Pada pemberian pakan buatan, sebelumnya dilakukan penyaringan, hal tersebut dimaksudkan agar pakan buatan yang tersaring sesuai dengan bukaan mulut dari larva udang pada tiap stadia    
2.4.4    Pengelolaan Kualitas Air
          untuk menjaga kualitas air pada media pemeliharaan larva, harus dilakukan pengelolaan air yang baik. Pengelolaan air dapat dilakukan dengan penyiponan dan pergantian air.  Penyiponan pada dasar bak dilakukan pada saat larva masuk stadia zoea 2 – 3 selama pemeliharaan larva. Sisa pakan yang tidak termakan dan hasil metabolisme yang berupa feses dibuang dari dasar bak pada waktu – waktu tertentu (penggunan probiotik akan mengurangi penyiponan).  Jika dalam dasar bak pemeliharaan sudah terlihat kelebihan endapan, buang endapan ke dalam seser kemudian pindahkan  muatan yang tersaring ke dalam ember. Apabila pada saat proses penyiponan terdapat larva yang terbawa dari bak pemeliharaan, larva dapat dimasukkan kembali ke dalam bak pemeliharaan.
          Pergantian air selama pemeliharaan larva perlu dilakukan tergantung dari kepadatan larva, stadia larva, dan kondisi kualitas air pada bak pemeliharaan larva. Pergantian air dilakukan untuk mempertahankan kondisi parameter kualitas air dalam bak pemeliharaan agar tetap stabil. Air yang digunakan pada proses pergantian air, harus mempunyai kualitas yang lebih baik dari air pemeliharaan yang ada dalam bak. Air yang akan digunakan harus sama dengan temperatur, salinitas, dan derajat keasaman (pH) untuk menghindari stress pada larva akibat dari perubahan parameter secara mendadak.
          Pada umumnya bak pemeliharaan larva hanya diisi 50% dari kapasitas maksimal. Kemudian selama stadia zoea, dilakukan penambahan secara berangsur-angsur sekitar 10% per hari dari kapasitas maksimal air yang baru (termasuk jumlah plankton yang digunakan) sampai bak terisi penuh dan dilakukan hingga mencapai stadia mysis. Pada stadia zoea tidak dilakukan pergantian air. Pada waktu masuk stadia mysis dilakukan pergantian air sebanyak 10 – 30 % per hari. Pada stadia awal larva, dilakukan pergantian air tetapi volume pergantian air lebih besar daripada stadia sebelumnya, pada       PL 1 – 4 dilakukan pergantian sebanyak 30 – 40% dan pada PL 5 – 8 dilakukan pergantian air sebanyak 40 – 50 %. Setelah stadia PL yang lebih besar perlu dilakukan pergantian air sebesar 50 – 80 % per hari pada PL 9 – 12 dan           60 – 90 % per hari pada PL 13 – 16.
          yang berhubungan dengan parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH, dan DO dilakukan pengecekan atau pengukuran dua kali dalam satu hari yaitu pada pagi dan sore hari. Hal tersebut dilakukan karena pada waktu-waktu tersebut terjadi fluktuasi parameter yang signifikan.
2.4.5. Monitoring Pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan larva udang dilakukan bertujuan untuk mengontrol pertumbuhan larva. Apabila pertumbuhan larva lambat dapat dipacu dengan pemberian pakan yang berkualitas. apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan mendukung, maka dapat dipastikan laju pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan. Sedangkan untuk mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan pengamatan makroskopis dan mikroskopis antara lain yaitu :
  • Pengamatan Makroskopis
Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter becker glass kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan kotoran atau feces dan butiran-butiran yang dapat membahayakan larva.
  • Pengamatan Mikroskopis
Dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan diletakkan di atas gelas objek, kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, pathogen yang menyebabkan larva terserang penyakit.
2.4.6  Pengendalian Penyakit
            Pada usaha pemeliharan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei), keberadaan penyakit merupakan salah satu permasalahan yang memerlukan penanganan secara khusus. Timbulnya penyakit dapat bersumber dari berbagai aspek, seperti : air sebagai media pemeliharan, peralatan pemeliharaan, pengaruh kontaminasi pakan, lingkungan, maupun sanitasi dari masing-masing pelaksana produksi yang secara langsung berhubungan dengan aktifitas pemeliharaan larva
          menyatakan Vorticella merupakan salah satu jenis protozoa yang menyerang larva dengan cara menempel pada permukaan tubuh larva atau insang pada semua stadia dalam kegiatan pemeliharaan larva udang vannamei. Ketika permukaan tubuh, alat gerak, atau insang banyak terdapat vorticella, akan menyulitkan larva dalam melakukan pergerakan, mensuplai makanan, moulting, dan respirasi.
          Penyakit yang paling serius mempengaruhi stadia larva udang vannameii  disebabkan oleh jamur, vibrio, dan bakteria. Perlakuan terhadap larva sangat sulit dan cukup mahal. Pengobatan harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Agar penyebaran penyakit tidak terjadi, bak pemijahan tidak berada pada satu tempat dengan bak pemeliharaan larva, orang yang memijahkan harus diberi desinfektan, dan penyaring air laut jumlahnya harus memadai. Pada umumnya penyakit bakterial dapat dihilangkan menggunakan erythromycin sebanyak 2 – 4 ppm, penyakit akibat jamur dapat dihilangkan menggunakan malachite green sebanyak 0,0075 ppm dan infeksi akibat protozoa dapat dihilangkan menggunakan formalin sebanyak 10 ppm          apabila tingkat kematian larva terlihat lebih banyak, larva harus diamati dengan cara mengambil beberapa ekor larva untuk dijadikan sampel agar dapat diketahui penyebabnya. Apabila teridentifikasi terdapat penyakit yang menyerang harus dilakukan treatmen. Treatmen dilakukan dengan cara pemberian trefflan, antibiotik, dan EDTA.
2.5     Panen dan Pasca Panen
          Pada PL 21 – PL 25 merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemanenan dari bak pemeliharaan karena pada ukuran tersebut dapat dengan mudah dipelihara pada tambak dan dapat dengan mudah untuk dikirim. Larva yang ada pada bak pemeliharaan dipanen dengan cara mengurangi 1/3 air pada bak kemudian dikumpulkan pada bag net yang ditempatkan pada ujung pipa pembuangan. Metode ini cukup efisien untuk mmengumpulkan semua larva. Pernyataan tersebut tidak sependapat dengan Wyban dan Sweeney (1991), yang menyatakan normalnya pemanenan benur udang dilakukan pada saat mencapai stadia PL8 sampai dengan PL10.
          benur yang dipanen harus mempunyai kualitas yang baik. Ciri dari benur yang siap untuk dipanen dan mempunyai kualitas yang baik adalah sebagai berikut :
a)  Mempunyai tubuh yang transparan dan usus tidak terputus.
b)  Gerakan berenang aktif dan melawan arus dan kepala enderung mengarah ke arah dasar.
c)  Kondisi tubuh setelah mencapai PL 10 organ tubuh sudah sempurna dan ekor mengembang, bebas virus.
d)  Respon terhadap rangsangan sangat responsif, benur akan melentik dengan adanya kejutan.
          Postlarva dapat ditampung dalam bak plastik, bak fiberglass, atau kanvas yang berukuran 500 – 1000 liter dan diberi aerasi.  Suhu air dalam kantong plastik diturunkan menggunakan es batu. Postlarva dengan kepadatan 200 – 500 per liter dapat diangkut sampai 10 jam tanpa menimbulkan tingkat mortalitas yang tinggi.  selain itu, postlarva juga dapat diangkut menggunakan kantong plastik tipe polyethylene yang diberi oksigen. Plastik berukuran 60 x 40 cm diisi   6 – 8 liter air tawar dan air laut kemudian masukkan 3000 – 5000 postlarva. Kepadatan jumlah larva dapat dikurangi jika dilakukan pengiriman dalam waktu lama atau jarak jauh. Setelah kantong plastik terikat kencang, tempatkan dalam styrofoam atau ember plastik. Suhu diturunkan sekitar 22 – 25°C menggunakan es dan serbuk kayu pada dasar, sisi, dan atas styrofoam. Postlarva akan bertahan lebih dari 12 jam selama pengiriman. kepadatan benur dalam plastik packing pada stadia PL15 berkisar antara 500 – 1200 per liter tergantung dari ukuran benur dan lamanya waktu pengiriman. Dalam plastik tersebut diberi karbon aktif sebagai pengikat amoniak selama proses pendistribusian. Selain itu dilakukan pemberian HCl Buffer sebagai penstabil pH dan naupli artemia sebanyak 15 – 20 ekor naupli per benur untuk mencegah terjadinya kanibalisme selama proses pendistribusian.



DAFTAR PUSTAKA
Briggs, M, Simon Funge-Smith, Rohana Subasinghe, dan Michael Phillips. 2004. Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The Pacific. FAO. Bangkok
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng. 2009. Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Teknologi Ekstensif Plus. DKP Provinsi Sulteng. Sulawesi Tengah
Edhy, W.A, Januar, P dan Kurniawan. 2003. Plankton di Lingkungan PT. Central Pertiwi Bahari. PT Central Pertiwi Bahari. Tulangbawang.
Elovaara, A.K. 2001. Shrimp Farming Manual : Practical Technology for Intensive Shrimp Production. United States of America (USA)
Gurisna. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.
Haliman, R.W. dan Adijaya, S.D. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta.
Harefa, Fa’ahakhododo. 2003. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Heryadi, D dan Sutadi, 1993. Back Yard Usaha Pembenihan Skala Rumah Tangga. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H. 2010. Pakan Udang. Akademia. Jakarta.
Kungvankij, P., L.B. Tiro, B.J. Pudarera, Jr., I.O. Potestas, K.G. Corre, E. Borlongan, G.A. Talean, L.F. Bustilo, E.T. Tech, A. Unggui, T.E. Chua. 1985. Training Manual : Shrimp Hathery Design, Operation, and Management. FAO. Bangkok
SNI 01-7252-2006. 2006. Benih Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih Sebar.
Soekartawi, S, A, J, Dellon dan B. Hardaker. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Peneletian  Untuk Pengembangan Petani Kecil. UI Press. Jakarta
Soleh, M. 2006. Biologi Udang Vannamei Litopenaeus vannamei. BBPBAP Jepara. Jepara
Subaidah, S. dkk. 2006. Pembenihan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo
Subaidah, Siti dan Pramudjo, Susetyo. 2008. Pembenihan Udang Vaname. Balai Budidaya Air Payau Situbondo.
Treece, G.D, dan Fox, J.M. 2000. Design, Operation, and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery. Texas University. Texas
Wardiningsih. 1999. Teknik Pembenihan Udang. Universitas Terbuka. Jakarta
Wyban, J.A. dan Sweeney, J.A. 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. USA
 

Sample text

Sample Text

Sample Text